7 Keunikan Pengendara Sepeda Motor yang Hanya Ada di Indonesia

Pengendara motor

Sepeda motor bisa dibilang salah satu kendaraan atau alat tranportasi khas Indonesia. Di Indonesia, mungkin hampir semua orang punya, atau minimal rutin (pernah) mengendarai motor. Bahkan di satu rumah, semua anggota keluarga mulai dari ayah, ibu, paman, hingga anak-anak yang masih remaja, masing-masing bisa punya motor. Hebat nggak tuh!

Memang, di beberapa negara lain, terutama negara-negara tetangga di Asia Tenggara, sepeda motor juga tak kalah banyaknya. Tapi kalau mau dihitung, kita bisa yakin di Indonesia-lah yang terbanyak. Ibaratnya, keberadaan motor di Indonesia sudah sebegitu “masif dan sistematis”-nya, hingga beragam profesi dan usaha terkait mulai dari bengkel, variasi/stiker, cucian motor, kredit baru/bekas, hingga debt collector, pun marak di mana-mana.

Saking banyaknya sepeda motor di negeri ini, beragam hal unik dan menarik pun bisa dicatat dari keberadaannya. Berikut kami rangkum tak kurang dari 7 (tujuh) keunikan pengendara motor di Indonesia, yang bisa kita lihat sehari-hari (khususnya di jalan-jalan kota) dan mungkin tak akan bisa ditemukan di negara lain (tanpa bermaksud memberi cap negatif atau kurang baik):

1. Everybody can be a racer
Sebenarnya heran juga, selain Doni Tata, kita nggak punya lagi nama besar di balapan motor. Mengherankan, karena sebenarnya “bakat-bakat” pembalap tak kurang banyaknya di negeri ini, dan Anda bisa menemukannya di jalanan umum sehari-harinya. Tak terbatas jenis kelamin, usia maupun status sosial, mau itu anak muda gagah dengan Kawasakinya, murid SD bonceng tiga, bapak-bapak bersandal jepit bawa kardus, mbak-mbak berhijab naik matic, ibu-ibu pakai daster dengan motor butut, semua bisa jadi “pembalap”. Kalau Rossi, Marquez atau Lorenzo tahu, mungkin saja mereka pengen menjajal jalanan di Indonesia ya? Atau malah sudah “keder” duluan?

2. Indonesia gudangnya motor “nggak matching”
Saking banyak dan tak terbatasnya sepeda motor dan pengendaranya di Indonesia, Anda akan susah memetakannya. Maksudnya, jika di luar sana pengendara motor hampir seragam, berjaket kulit dan terlihat macho dengan moge, atau bergaya sporty dengan motor sport, di sini tidak sesederhana itu. Buktinya, lihat saja ada banyak motor sport yang dipasangi ban kecil ala sepeda. Atau sebaliknya motor bebek matic justru dipasangi knalpot racing. Belum lagi tipe motor yang mirip skuter, atau motor ala kadarnya alias nyaris tinggal rangka doang. Begitu juga dengan pengendaranya. Jangan kira semua pemotor di Indonesia lengkap berjaket, helm dan bersepatu. Yang bersandal jepit atau terompah ada banyak. Yang bersorban atau peci doang juga banyak, malah kadang lengkap dengan sarung atau jubah panjangnya. Belum lagi yang bersepatu hak tinggi, pakai rok mini, hotpants, bahkan mungkin celana renang, yang bergaya resmi dilengkapi jas dan dasi, atau sebaliknya yang hanya bersinglet. Warna-warni-lah pokoknya!

3. Klub motor (atau sekadar jaketnya) marak di mana-mana
Tapi, bicara perlengkapan atau aksesoris bermotor, pengendara Indonesia punya kekhususan lain, yaitu suka “tergabung” di klub-klub motor. Lihat saja betapa banyaknya pengendara dengan jaket klub motor di jalan, mulai dari kelompok motor setipe, rekan sekantor, satu kampung halaman, komunitas motor RW sekian, dan lain-lain. Walaupun memang, pantas “dicurigai” jika tak semua jaket klub motor itu mewakili klub sesungguhnya, karena tampaknya ada yang cuma 3-5 orang anggotanya –atau mungkin malah ada yang bikin-bikinan sendiri saja.

4. Pengendara Indonesia bangga beratribut aparat
Ini satu kekhasan lainnya pengendara motor Indonesia, yang sebenarnya juga suka dilakoni banyak pengemudi mobil. Mereka suka sekali beratribut ala aparat, mulai dari sekadar stiker Marinir, Paskhas, Brimob, Bareskrim Polri, Dishub, atau juga “Mitra KPK” dan lain-lain. Tidak sekadar stiker, atribut lain pun kerap tak ketinggalan, mulai dari jaket, tas (ala militer), sepatu, hingga celana yang bila perlu dimodifikasi sesuai celana lapangannya aparat –atau sekadar berwarna cokelat ala polisi. Kesukaan memasang lampu rotator ala Patwal atau Polantas, lengkap dengan sirenenya, juga mungkin termasuk bagian dari karakter ini. Entahlah apa motivasinya. Entah memang karena kecintaan pada aparat penegak hukum, sekadar gaya-gayaan, ataukah karena ingin (merasa) “berkuasa” di jalan?

5. Pelat nomor hilang atau patah? Udah biasa tuh!
Beda dengan aksesoris, kelengkapan kendaraan bagi banyak pemotor Indonesia justru tampaknya kurang penting. Lampu tidak hidup, lampu pecah, spion cuma rangkanya, rem tak berfungsi, banyak ditemukan di mana-mana. Yang juga banyak adalah pelat nomor yang tak lengkap: cuma ada di depan, yang bagian belakangnya patah separuh, yang tergantung nyaris jatuh, dan sebagainya. Penyebabnya mungkin saja ada yang karena abai, tidak peduli pada keutuhan kendaraannya, atau justru ada yang memang sengaja “menghilangkan” sebagian identitas motornya.

6. Jangan heran melihat “hobi” unik pemotor Indonesia
Pengendara motor di Indonesia juga punya banyak hobi unik. Bukan, bukan sekadar menelepon atau mengetik SMS sambil berkendara, atau berboncengan lebih dari dua orang, karena itu mungkin sudah jadi “penyakit” di mana-mana. Hobi yang lebih khas itu misalnya adalah membakar rokok sambil berkendara, atau saban berhenti di lampu merah. Ada juga yang suka memasang standar motor di lampu merah. Hobi menonton kecelakaan atau peristiwa lain sepanjang jalan, Anda juga pasti sering lihat. Begitu juga dengan hobi berhenti di bawah pohon, kala panas maupun hujan, atau di bawah jalan layang. “Hobi-hobi” unik lainnya adalah berkendara sambil jari standby di klakson, dan bukannya pegang rem; atau “hobi” kelupaan menghidupkan atau mematikan lampu sen.

7. Pengendara sepeda motor adalah “penguasa” jalanan
Pendek kata, sepeda motor dan pengendaranya di Indonesia memang sudah sedemikian banyaknya dan mendominasi, yang jika diumpamakan sudah ibarat serigala-serigala di jalanan. Berkerumun, kerap “beringas” dan tak peduli orang lain, pemotor sudah bak penguasa di jalan. Mereka bisa nyalip ke mana-mana, lewat trotoar atau halaman ruko, menyalahkan mobil-mobil atau kendaraan lain yang menghalangi, mengklakson beramai-ramai, nyaris tak pernah sudi memberi kesempatan bagi yang ingin menyeberang, dan lain sebagainya. Sebuah keunikan, tapi di situ sebenarnya kita patut merasa “ngeri”.

Sumber: Berbagai sumber. Foto: Pixabay

Related posts

Leave a Reply