Pengalaman Mengurus Balik Nama STNK dan BPKB Motor Sendiri

Berikut adalah pengalaman pribadi penulis sendiri (admin portal ini) dalam mengurus balik nama (STNK dan BPKB) sepeda motor, tanpa bantuan calo, biro jasa atau pihak lain.

Sebelumnya, perlu dicatat ya, bahwa ini adalah kondisi sebelum berlakunya kenaikan tarif (awal Januari 2017). Tepatnya, ini adalah kejadian Desember 2016 lalu, yang tentu saja masih tergolong pengalaman terbaru alias fresh.

Oya, sedikit tambahan, surat motor yang diurus penulis berada (tercatat) di wilayah Depok, karena penulis memang warga sini (buka kartu dikit lah..).

Nah, berikut kronologis alias tahap-tahap pengurusannya:

Bagian Pertama: Balik Nama STNK dan Bayar Pajak

Jadi memang, waktu beli motor second pada Agustus 2016 lalu, saya sudah bayangkan kira-kira kapan dan apa saja yang dibutuhkan untuk pengurusan balik namanya. Sudah pasti bakal balik nama, karena selain saya orangnya taat administrasi dan taat pajak (maaf sedikit memuji diri), saya memang tak mau direpotkan dengan urusan pinjam-meminjam KTP berulang-ulang.

Dan karena pajak motor ini ternyata jatuh tempo Desember 2016, maka pengurusan balik nama sudah saya targetkan pada Desember, atau paling cepat November. Jadi begitulah, akhirnya pada suatu Sabtu di akhir November, saya pun pagi-pagi sudah berangkat ke Samsat Depok (Polres Depok).

Kenapa Sabtu? Sebenarnya, saya juga ingin menghindari hari yang biasanya lebih dipadati pengunjung ini. Maunya sih di hari kerja, dengan mengambil waktu di sela-sela jadwal kantor, atau sekalian memastikan dengan ambil libur (off). Tapi nyatanya ya, cuma Sabtu itu yang saya punya.

Berangkat dari rumah jam 8 lewat, jam 9 kurang saya sudah di Samsat Depok. Luar biasa ramai memang bro! Yang belum tahu lokasinya, bisa cek di Google Maps. Tepatnya di Jalan Kemakmuran, masuk ke sebelah kanan kalau kita dari arah selatan. Patokannya adalah Taman Merdeka (di situ belok kanannya di jalan masuk kedua).

Di lokasi, saya langsung saja masuk area Samsat, samping gedung Polres yang tampak sedang direnovasi. Masuk gerbang, ke kanan dekat kios fotokopi, langsung masuk antrean motor dan mobil untuk cek fisik. Sambil tunggu giliran, jaga-jaga saya siapkan berkas-berkas (dan uang). Saya memang selain pegang kuitasi pembelian (bisa yang diisi lengkap atau kosong saja dengan tanda tangan bermaterai Rp6000), juga sudah pegang satu rangkap copy surat-surat.

Tiba giliran saya, karena motor cuma matic dan posisi nomor rangka dan nomor mesinnya jelas (bersih pula), sebentar saja petugasnya sudah selesai menggesek. Label gesekan ditempelkannya ke kertas cek fisik. Kepikiran mau kasih uang tips, tapi karena dari awal tampaknya tak ada yang ngasih, berarti saya juga nggak perlu. Ya sudah, baguslah.

Terus saya memarkirkan motor. Tapi karena di lokasi parkir (dekat gerbang) katanya penuh, alhasil menuju lahan kosong yang ada sampingnya. Taruh aja yang baik di situ, nanti abang-abang tukang parkirnya akan merapikan lagi, meski tanpa karcis.

Skip-skip sedikit ceritanya, urusan selanjutnya adalah meng-copy (ya, akhirnya saya copy ulang juga serangkap di sini, sekalian dengan form cek fisiknya). Kena tarif yang dipatok Rp8000, berkas langsung disusunin rapi. Terus masuk ke loket pengesahan cek fisik, posisi di ujung tempat cek fisik tadi. Masukin berkas di situ, nunggu sebentar, dipanggil, dan berkas pun selesai di-verified.

Terus, dengan berkas-berkas yang lengkap berikut cadangan copy-nya, saya pun langsung menuju gedung utama Samsat. Masuk pintu depan, langsung kelihatan loket penyerahan berkas di kiri ruangan arah jam 10. Berkas semua ditaruh di situ.

Tapi tenyata, pas dipanggil dan dilihat berkas saya, saya diberi tahu begini: “Bapak ini yang mau balik nama ya? Ini alamatnya bapak di Samsat Cinere nih ngurusnya, pak!”

Hah? Baru ‘ngeh’ kalau ternyata saya masuk wilayah Samsat Cinere, dan urusan balik namanya harus di sana. Lagipula, saya pikir Samsat Depok sudah sekaligus membawahi se-Depok. Yah, sudahlah kalau begitu.

Keluar gedung, saya mikir sebentar sambil lihat jam. Sudah jam 9.45, sedangkan kata orang urusan di Samsat itu hari Sabtu paling telat jam 11. Keburu nggak ya?

Menguatkan tekad, saya akhirnya cabut dari Samsat Depok sekitar jam 9.50, melaju secepatnya ke Cinere. Mudah-mudahan nggak macet parah dan lancar di jalan, batin saya. Oya, sebelumnya pas ngambil motor di parkir, saya bayar dulu abang-abangnya, cukup Rp2000 saja.

Menerobos keramaian jalan sebisanya, ternyata cukup lancar juga perjalanan saya. Sampai Samsat Cinere (di Jalan Cinere Raya, Limo) sekitar jam 10.45. Masuk gerbang dapat kartu parkir, taruh aja di halaman depan. Saya berusaha pede dan yakin saja nggak perlu lagi cek fisik, karena kan sudah ada berkasnya dari Samsat Depok.

Di bagian dalam gedung, nanya ke mbak-mbak informasi, dia bilang urusan balik nama di lantai 3. Saya pun langsung naik dan masukin berkas (mencakup STNK, BPKB/KTP, juga from cek fisik), sekitar jam 10.50 waktu itu. Baca di papan, katanya Sabtu tutup loketnya sih jam 12. Aman, masih cukuplah.

Tapi ternyata saya belum ngisi form, sehingga dipanggil petugasnya lagi untuk ngisi dulu. Habis itu baru masukin lagi berkasnya. Nggak lama setelah itu dapat panggilan, di mana BPKB dikembalikan, terus katanya tinggal nunggu panggilan kasir.

Samsat Cinere

Nah, menunggu kasir ini yang ternyata lebih lama. Loket pendaftaran tampak sudah ditutup sekitar 11.30, saya belum dipanggil juga. Bahkan masuk jam 12, terus lewat dari jam 12.. belum juga. Sementara beberapa orang lain sudah mondar-mandir. Termasuk tampaknya beberapa orang yang pegang sebundel berkas, entah dia itu semacam calo atau agend kendaraan.

Akhirnya jam 12.40, saya dipanggil juga. Bayar dengan tarif yang ternyata murah saja, nggak jauh beda dari pajak motor keluaran 2010 ini (kira-kira aja sendiri angkanya ya). Nggak sampai ratusan ribulah. Dan tak lama, selang 5 menit aja, di loket sebelahnya pun saya dipanggil lagi: STNK baru sudah jadi (sudah dengan nomor baru).

Langsung ke bawah, saya pun mengarah ke bengel pembuatan pelat nomor. Sempat ragu jangan-jangan sudah tutup, tapi ternyata tidak (walaupun sudah sepi). Ngasih unjuk STNK ke abang-abangnya, sekitar 10 menit lebih sedikit pelat nomor saya pun jadi (masih agak lengket tapi tinggal dijemur dikit). Dan untuk ini, terutama karena lihat petugasnya kerja keras buru-buru dan keringetan di dalam ruang sempit, saya akhirnya ngasih tips selembar ceban-an.

Semua beres, cabut deh, setelah ngasih parkiran Rp2000 (sebenarnya nggak diminta, tapi saya ngasih aja). Tinggal urusan BPKB sekarang, yaitu ke Polda Metro Jaya (Komdak).

Bagian Kedua: Perubahan Data (Kepemilikan) BPKB

Oke, bagian ini akan saya persingkat, biar nggak terlalu bertele-tele. Selang 4 hari setelah urus STNK, di sela hari kerja, saya ke Polda Metro. Tapi ternyata kesiangan alias telat. Sebenarnya masih sekitar jam 11.25, tapi petugas di pintu (gedung biru) bilang nomor antrian sudah habis dari jam 11. Katanya, pagi-pagi bener kalo mau cepat, jam setengah 8 udah buka kok.

Gagal, besoknya saya datang lagi lebih pagi. Sampai gedung biru Komdak itu sekitar jam 8.25, dan yes, nomor antrian dapat (walaupun kayaknya bakal lama). Daftar ke meja yang ada mesin scan, saya dikasih form. Terus ke loket BRI di sebelah kirinya, minta slip setoran, diisi, terus bayar. Tarifnya Rp80.000 untuk motor.

Terus, saya isi form. Atau kalau udah diisi sebelumnya, tinggal tempelin stiker lunas yang dari BRI. Copy dulu, terus distaples rapi, tunggu giliran. Berkasnya itu selain form, ada STNK dan BPKB asli, KTP, copy STNK-BPKB, juga copy cek fisik. Pas dipanggil nomor antrian, baru serahkan semua ke loket. Nanti BPKB dan copy-an semua ditinggal, KTP dan STNK boleh dibawa lagi, dapatlah tanda bukti/pengambilan (BPKB).

Waktu itu saya jadwal pengambilannya selang 10 hari kemudian. Oya, jangan lupa pencet tombol kepuasan layanan di loket itu. Hijau aja kalau memang merasa puas. Dan urusan ini pun sudah kelar sekitar jam 9.05 hari itu.

Menjemputnya justru saya yang tertunda lama, itu juga gara-gara kesibukan diri sendiri. Malah udah lewat hampir dua minggu dari jadwal. Pas pengambilan itu, sampai Komdak sekitar jam 9.15, nggak perlu nomor antrian saya masuk. Copy dulu tanda pengambilan dan STNK dua rangkap (sesuai saran petugasnya) di lantai satu, terus langsung ke lantai dua. Masukkan copy & tanda pengambilan di loket sana, tunggu, dan sekitar jam 9.35 saya pun sudah dipanggil. BPKB kelar sudah! Cek sebentar data di BPKB, saya pun meninggalkan gedung itu dengan rasa puas. Maka bereslah urusan ini.

Kesimpulan

1. Belakangan kayaknya, urusan surat-surat kendaraan ini sebenarnya tidak lagi serumit seperti dulunya. Malah bisa dibilang gampang dan tahapannya pun jelas. Asal ada kemauan kuat saja untuk mengurusnya sendiri.

2. Kuncinya adalah menyediakan cukup waktu dan tenaga, serta sabar mengikuti prosesnya. Jelas, kalau kita cuma punya waktu sedikit atau mepet, otomatis juga bakal nggak sabaran jadinya.

3. Kunci lainnya adalah siap sedia dengan berkas (dokumen) lengkap, dan tentu juga biaya. Daftar biaya resminya juga bisa dilihat sendiri kok di berbagai website, atau langsung di lokasi. Jadi nggak perlu bingung.

4. Percaya diri dan tidak malu bertanya saat di lokasi adalah hal penting juga. Ingat, malu bertanya bisa sesat di jalan kan?

Nah, bagi yang belum pernah, selamat mengurus sendiri surat-surat kendaraannya ya! Buat yang ingin berkomentar, atau mungkin punya pengalaman lain, silakan sampaikan saja di sini.

Sumber & foto (Samsat Cinere): Admin. Ilustrasi: FIF.

Related posts

Leave a Reply